Tepatkah Risau Kita?

Biasanya , manusia merisaukan apa yang belum terjadi.perasaan risau ini adalah pertanda masih ragu terhadap takdir Allah.
Rasa risau akan selalu menghantui orang – orang yang tidak mau bergantung kepada Allah. Menghadapi persoalan apapun, yang mereka andalkan adalah semata- mata kekuatan makhluk; harta,kepintaran,kekuatan fisik, atau malah bantuan orang lain.

Mereka mampu melihat makhluk tapi tidak mampu menyaksikan kepunyaan Allah. Mereka selalu mengatakan : saya punya ini , punya itu.. tapi mereka tidak katakan ini punya Allah dan itu kepunyaan Allah. Mereka tidak sadar dan tidak paham bahwa segala yang mereka miliki hakikatnya adalah milik Allah. Mereka tidak berdaya sedikit pun menghadapi ketentuan Allah.

Sebaliknya , orang – orang yang bergantung kepada Allah tidak akan di hantui rasa risau. Mereka yakin akan jaminan Allah, Meskipun mereka tidak memiliki apa-apa yang bersipat duniawi, tapi mereka memiliki ALLAH.

Ibarat anak kecil yang ketakutan ketika listrik mati di malam hari. Anak itu takut akan kegelapan yang tiba – tiba menyergap. Namun , begitu anak itu di tarik kedalam pelukan ibunya. Rasa takut pun hilang seketika. Ia tidak menangis lagi. Ia tahu dirinya aman dan nyaman dalam rengkuhan orangtuanya yang melindunginya.

Begitulah orang yang bertawakkal kepada Allah. Beragam masalah  hidup tidak akan membuat mereka kebingungan,karena mereka yakin Allah SWT tidak akan membiarkan para hamba-Nya sendirian. Allah pasti akan merengkuh mereka dalam rahmat dan magfirah-Nya,sehingga mereka terbebas dari risau dan ketakutan.

Nah bagaimanakah kita supaya mendapatkan rengkuhan rahmat dan magfirah-Nya ? Bebaskan diri dari keinginan syahwati.

Rasa tidak bahagia yang mendera manusia seringkali muncul dari banyak keinginan. Yang dimaksud disini adalah keinginan yang bersumber dari hawa nafsu (syahwat), yang tanpak seolah baik padahal berakibat buruk bagi manusia.

Keinginan syahwati adalah racun yang menodai hati manusia,sehingga tidak mungkin meraih bahagia.jika tidak tercapi,manusia akan kecewa; ketika tercapai tidak serta merta puas.

Meskipun awalnya terasa menyenangkan,tapi sebentar kemudian akan membosankan. Makin diturut,syahwat akan semakin menuntut. ibarat air laut, makin banyak diminum makin terasa haus.

Di samping itu,keinginan syahwati juga merupakan bukti manusia tidak ridha kepada apa yang dikaruniakan Allah padanya dan tidak mau berserah diri padanya dan tidak mau berserah diri pada kehendak-Nya. Padahal tidak ada yang lebih baik daripada apa yang telah dikehendaki Allah.

Sehingga,seseorang yang saleh pernah berkata “ Keinginanku yang terbesar adalah bahwa aku tidak memiliki keinginan lagi “maksudnya, keinginan terhadap selain allah. Sebab,bagi kalangan saleh,satu-satunya keinginan mereka adalah Allah saja. Semoga kita mampu menjelajahi jalan golongan mutawakkilin.

9 thoughts on “Tepatkah Risau Kita?

  1. Aa Ikhwan mengatakan:

    nice artikel😀

  2. cumakatakata mengatakan:

    Makin diturut,syahwat akan semakin menuntut.

    bener banget…

  3. Sri Rizky mengatakan:

    Keinginan syahwati adalah racun yang menodai hati manusia,sehingga tidak mungkin meraih bahagia.jika tidak tercapai,manusia akan kecewa; ketika tercapai tidak serta merta puas.

    Begitulah syahwat…

  4. setia1heri mengatakan:

    wah dalam banget😀
    nais artikel sist😀

  5. Jarimanis Indonesia mengatakan:

    Assalamualaikum, baru bisa mampir lagi…

  6. maman mengatakan:

    subhanallah.. mengingatkan sangat artikelnya…

  7. 3dartvisualization mengatakan:

    artikel yang sangat menarik🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s