Puasa Sunnah Di Bulan Syawal

Tak terasa bergulirnya waktu,melesat seperti anak panah tak ada yang dapat memberhentikannya inilah suatu tanda suatu kenikmatan hidup di dunia .Baru saja kemarin kita di tinggalkan oleh bulan rahmat.Tak puas rasanya menjamu bulan penuh hikmah itu mengisinya dengan amal soleh dan tak puas rasanya kita menata amal- amal kebaikan di bulan ampunan itu.

Yang lalu biarlah berlalu mudah-mudahan kita di pertemukan kembali dengan bulan ramadhan yang akan datang . Kita sekarang menginjak di bulan syawal dan ada  Salah satu amalan sunah yang jangan kita lewatkan yaitu puasa yang dianjurkan/disunnahkan setelah berpuasa di bulan Ramadhan adalah enam hari di bulan Syawal. tentunya selain puasa senin kamis atau puasa putih yaitu  puasa ayyamul biid (puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 hijriyah)  . Puasa di 6 hari di bulan syawal ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

 “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”(HR. Muslim no. 1164)

Bagaimanakah melakukannya puasa  سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ   ?

Dalam melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal ulama berselisih pendapat tentang tata cara yang paling baik :

Pendapat pertama, dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya lemah.

Pendapat kedua, tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki’ dan Imam Ahmad.

Pendapat ketiga, tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma’mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha’. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 384–385)

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?

Beliau menjelaskan, “Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal ….‘ (Hadis riwayat Muslim, dalam Shahih-nya)

 Lihat (Majmu’ Fatwa wa Maqalat Ibni Baz, jilid 15, hlm. 391)

Aku orang yang kurang ta’at dalam menjalankan ke islamanKu kalau aku selang – selang dalam melaksanakan saum ini aku terkadang males untuk melanjutkannya lagi dan Aku cenderung melakukannya seperti yang di utarakan Imam Nawawi rohimahulloh  dalam Syarah Shohih Muslim 8/328: “Afdholnya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Iedul Fithri. Selain itu  bersegera melakukannya berdasarkan dalil-dalil yang berisi tentang anjuran bersegera dalam beramal sholih. Sebagaimana Allah berfirman :

فَاسْتَبِقُوا۟    الْخَيْرٰتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Al Maidah 5 : 48).

Mendahulukan Puasa Qodho’ atau puasa سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ ?

Kita sebagai muslimah tentunya ada hari di mana kita  tidak boleh berpuasa yaitu muslimah sedang haid atau nifas atay yang lainnya . Dan apabila seseorang mempunyai tanggungan puasa (qodho’) sedangkan ia ingin berpuasa Syawal juga, manakah yang didahulukan? Pendapat yang benar adalah mendahulukan puasa qodho’. Sebab mendahulukan sesuatu yang wajib daripada sunnah itu lebih melepaskan diri dari beban kewajiban. Ibnu Rojab rohimahulloh berkata dalam Lathiiful Ma’arif, “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, hendaklah ia mendahulukan qodho’nya terlebih dahulu karena hal tersebut lebih melepaskan dirinya dari beban kewajiban dan hal itu (qodho’) lebih baik daripada puasa sunnah  Syawal”. Pendapat ini juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Mumthi’. Pendapat ini sesuai dengan makna eksplisit hadist Abu Ayyub di atas.

Keutamaan puasa سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ

Sedangkan keutamaan puasa Syawal banyak sekali. Sedikitnya ada 6 (enam) keutamaan puasa Syawal yang dapat kita peroleh jika kita melaksanakannya, yaitu:

  1.  Puasa Syawal akan menggenapkan pahala berpuasa setahun penuh seperti bunyi hadits di atas.
  2. Puasa Syawal seperti halnya shalat sunnah Rawatib dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib. Artinya, apabila dalam melaksanakan puasa Ramadan (puasa wajib) ada bahkan banyak kekurangan, maka puasa Syawal-lah (puasa sunnah) yang dapat menutupi dan menyempurnakan daripada kekurangan tersebut (lihat Latha’if Al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hambali, hal. 394).
  3. Melaksanakan puasa Syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Allah Swt akan membalas perbuatan yang baik dengan yang baik pula. Puasa Ramadan adalah perbuatan baik, maka jika kita melaksanakan puasa Ramadan dengan penuh ikhlas dan mengharap ridlo Allah Swt maka Allah akan memberi petunjuk kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan setelahnya. Begitu pula jika Allah Swt. menerima amalan baik seseorang maka seseorang itu akan diberi petunjuk oleh Allah Swt untuk melakukan amalan yang baik pula pada waktu dan tempat yang berbeda. Hal inilah yang dijelaskan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H (Tafsir Surat Al Lail) yang berbunyi, “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.
  4. Melaksanakan puasa Syawal menandakan bahwa ibadahnya continue (terus-menerus) dan bukan musiman saja yaitu pada bulan Ramadan.

Kapanpun melakukan syawal  شَوَّالٍ sesuai kepahaman kita dan keyakinan kita tentunya dengan dalil – dalil yang soheh yang bisa di jadikan rujukan dalam melakukannya .Kesempurnaan hanya milik Alloh  yang memiliki samudera ilmu.

Tersanjung rasanya ada yang menambahkan hadist – hadist lainnya untuk penyempurnaan artikel ini atau ada yang meluruskan kesalahan pemaparan artikel ini .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين

Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadist dariku, sementara dia menyangka bahwasanya hadist tersebut dusta, maka dia termasuk diantara salah satu pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya, 1:7).

Wallahu waliyyut taufiq.

28 thoughts on “Puasa Sunnah Di Bulan Syawal

  1. zainal mengatakan:

    terima kasih pencerahannya,bu ustadzah..

    Selamat hari raya idul fitri,mohon maaf lahir dan bathin..

    • srierizky mengatakan:

      Waduh.. jadi malu di bilang bu Ustadzah..
      Kalau sudah berhadapan dan tahu siapa saya dan Alloh membukakan aib saya..
      Kata ustadzah tidak layak kayanya🙂
      Hanya berbagi dari apa yang saya baca saja..
      Selamat meraih kemenangan semoga kita Alloh golongkan ke dalam golongan orang2 yang bertaqwa
      Amiin

  2. Ilham mengatakan:

    terimakasih informasinya mbak. tadinya saya kurang tau seluk beluk kenapa ada puasa enam ini. sekarang jadi tau deh. moga2 bisa menjalankan. jadi gak mesti pertengahan bulan dan boleh terpisah2 ya?

    • srierizky mengatakan:

      Siip..
      Ini cuma sebagian kecil yang dapat saya share dari apa yang saya baca🙂 di luar sana mungkin lebih detail penjelasan mengenai saum syawal ini..
      Apa yang kita lakukan asal paham dengan dalil (petunjuk) yang soheh tentunya yang kita jadikan rujukan

  3. jarimanisindonesia mengatakan:

    tercerahkan, terimakasih!

  4. b0netz mengatakan:

    Minnal aidzin wal faidzin teh🙂

  5. pena usang mengatakan:

    Minal aidzin wal faidzin yaa

  6. ipungpoerwadi mengatakan:

    InsyAllah bisa menjalankannya…
    Ngaturaken Sugeng Riyadi 1 Syawal 1433 H,nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan…

  7. jayputra9 mengatakan:

    Makasih kak infonya. Saya pernah dijelaskan tentang puasa 6 hari di bulan syawal saat MA dulu, tapi saya kurang mengerti, maklum saya pemalu jadi saya tidak bertanya. Saya baru tahu keutamaannya sangat besar, membuat saya lebih semangat untuk mengerjakannya di bulan syawal ini.

  8. rawins mengatakan:

    inget ortu yang selalu puasa lagi setelah lebaran
    kalo aku boro-boro yang sunah
    wajib aja bolong bolong..

  9. Ely Meyer mengatakan:

    jadi tambah ngerti

  10. sweetyvinz mengatakan:

    maaf lahir batin ya🙂
    jd semangat bwt syawalan nih, heu

  11. HALAMAN PUTIH mengatakan:

    Rasulullah tidak memberikan ketentuan secara khusus bagaimana kita melaksanakan puasa syawal itu, selama itu masih dilaksanakan pada bulan syawal. Kalau menurut saya sih memang tidak harus secara berurutan, asal tetap dilaksanakan di bulan Syawal.
    Yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah, ditinjau dari segi fiqih ibadah memang seperti itu.

  12. POPI mengatakan:

    moga2 bisa puasa syawal nih. Tapi mau bayar dulu..seminggu pula!
    btw..Mohon maaf lahir batin Sri!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s